Kabar dan Berita Penerima Beasiswa Al Azhar PM Darussalam Gontor Ulul Albab

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Serangan Mendadak Hamas : Pernyataan Perang Israel Terhadap Palestina


Gumpalan asap membubung di atas Kota Gaza pada 7 Oktober 2023, selama serangan udara Israel menyusul serangan besar terhadap Israel oleh Hamas


Kawasan Timur Tengah kembali memanas seiring dengan serangan mendadak kelompok Hamas Palestina ke Israel dekat perbatasan Gaza pada Sabtu (7/10/2023). Serangan tersebut diklaim merupakan upaya merebut kembali Tanah Air warga Palestina dari pendudukan Israel.


Sebelum hari Sabtu, setidaknya 247 warga Palestina, 32 warga Israel dan dua warga asing telah terbunuh tahun ini, termasuk kombatan dan warga sipil, menurut pejabat Israel dan Palestina.


Hamas menyebut serangannya sebagai “Operasi Banjir Al-Aqsa” dan menyerukan “pejuang perlawanan di Tepi Barat” serta di “negara-negara Arab dan Islam” untuk bergabung dalam pertempuran tersebut.


Sayap bersenjatanya, Brigade Ezzedine Al-Qassam, mengeklaim telah menembakkan lebih dari 5.000 roket, sementara Hecht mengatakan Israel menghitung lebih dari 3.000 roket telah masuk ke wilayah Israel.


Ketua Hamas Ismail Haniyeh mengeklaim kelompoknya berada di “ambang kemenangan besar”. “Siklus intifada (pemberontakan) dan revolusi dalam pertempuran untuk membebaskan tanah kami dan tahanan kami yang mendekam di penjara pendudukan harus diselesaikan,” katanya.


Palestina mengibarkan bendera nasional di samping blokade Israel yang hancur di pagar perbatasan yang memisahkan Jalur Gaza dari Israel, sebelah timur 
Khan Younis, pada 7 Oktober 2023. (Foto AP/Yousef 
Masoud) 


Buntut dari serangan Hamas tersebut, pemerintah Israel resmi mengeluarkan pernyataan perang setelah adanya serangan dari pasukan militan Palestina, Hamas, pada Sabtu (7/10).


Militer Tel Aviv masih terus melancarkan serangan ke arah Gaza, dengan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mendeklarasikan operasi “Pedang Besi” sebagai balasan terhadap serangan Hamas dan bersumpah bahwa Israel akan “melakukan balas dendam yang besar” atas serangan yang dilakukan pasukan Hamas.


Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant secara terpisah memerintahkan pengepungan total terhadap Jalur Gaza. Ini otomatis menganggu pasokan listrik, makanan dan bahan bakar ke wilayah tersebut.


Jumlah korban jiwa, pada Senin (9/10/2023) malam waktu setempat, mencapai lebih dari 1.200 orang di kedua belah pihak. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan sedikitnya 560 kematian, termasuk 78 anak-anak, dengan 2.900 orang terluka. Angkatan Bersenjata Israel (IDF) melalui media sosial X menyebutkan, korban jiwa di pihak Israel mencapai lebih dari 700 jiwa. Sebagian besar korban tewas setelah Hamas masuk ke Israel dari darat, udara dan laut.


Dari semenjak konflik tersebut, banyak negara yang membuka suara terkait peristiwa yang dimulai sejak Sabtu kemarin. Banyak pihak yang menyalahkan peristiwa tersebut sebagai konsekuensi dari ketidakpatuhan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.


Beberapa negara seperti Rusia, China, Turki dan Arab Saudi meminta komunitas internasional agar bisa memberikan solusi perdamaian antara kedua negara dengan membentuk perjanjian internasional yang mengatur pembentukan Palestina merdeka berdasarkan perbatasan tahun 1967.


Sejumlah demonstran di berbagai negara di dunia memberikan dukungan terhadap Palestina dengan mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan "Palestina Merdeka"


Di samping itu, berbagai dukungan terhadap Palestina bermunculan di beberapa negara di dunia. Para demonstran membawa bendera Palestina dan meneriakkan slogan Palestina merdeka dan slogan-slogan anti Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.



Red : Tim redaksi Ulul Albab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Pandora