Kabar dan Berita Penerima Beasiswa Al Azhar PM Darussalam Gontor Ulul Albab

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Setelah Memboikot, Terus Mau Apa? 




Dalam menanggapi isu konflik Israel-Palestina yang berlarut, banyak pengguna media sosial yang muncul dengan seruan untuk memboikot produk yang dikaitkan dengan dukungan terhadap Israel. Memang, boikot bisa dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi kekecewaan, sebuah tindakan simbolis yang menunjukkan ketidaksetujuan. Namun, di balik simbolisme tersebut, ada pertanyaan mendalam yang harus kita renungkan: Apakah kita, sebagai umat Muslim, telah mempersiapkan diri dengan produk alternatif yang setara atau bahkan lebih unggul?


Renungan ini bukanlah untuk menyalahkan dan meremehkan usaha orang-orang yang memboikot, tetapi lebih kepada introspeksi kolektif. Adakah kita telah berkontribusi secara nyata dalam lini produksi, ilmu pengetahuan, dan teknologi? Ataukah kita lebih sering terjebak dalam retorika tanpa tindakan konkret? Kita harus mengakui bahwa era globalisasi menuntut kita untuk berkompetisi dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal produksi barang dan jasa. Jika kita ingin memboikot suatu produk, maka idealnya kita memiliki alternatif yang setidaknya setara.

Sebagai contoh, jika kita memboikot produk atau teknologi dari suatu negara, apakah kita sudah memiliki teknologi sendiri yang mampu menyaingi atau bahkan melampaui produk yang kita boikot? Jika belum, maka mungkin sudah saatnya kita berfokus pada peningkatan kapasitas diri dan komunitas dalam bidang tersebut. Hal ini membutuhkan kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi antar individu dan kelompok.


Lebih dari itu, kita juga perlu memahami bahwa boikot bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu cara untuk menyampaikan pesan. Namun, pesan yang lebih kuat bisa disampaikan melalui karya nyata. Ketika kita mampu menghasilkan produk, inovasi, atau pengetahuan yang unggul, kita tidak hanya menunjukkan ketidaksetujuan, tetapi juga kapabilitas, persatuan, dan kemandirian.


Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk selalu berusaha, bekerja keras, dan berdoa. Maka, alih-alih hanya terjebak dalam retorika, marilah kita fokus pada tindakan nyata. Mari kita investasikan waktu dan energi kita untuk belajar, berkarya, dan berinovasi. Sehingga, suatu saat nanti, ketika kita memutuskan untuk memboikot suatu produk, kita tidak lagi merasa kehilangan karena sudah memiliki alternatif yang lebih baik.


Dalam konteks ini, media sosial dan demonstrasi memang memiliki tempatnya sendiri sebagai wadah untuk berekspresi. Namun, kita harus memastikan bahwa ekspresi tersebut diimbangi dengan tindakan nyata. Kita harus bergerak dari sekadar kata-kata menuju perbuatan konkret, dari sekadar protes menuju produksi. Sebab, hanya melalui kerja keras dan dedikasi, kita dapat mencapai kemandirian dan keunggulan dalam berbagai bidang.


Red : Staf Literasi Ulul Albab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Pandora